
Kenangan masa kecil
Pengalaman Masa Kecil (11)
SMP KOTO LAWEH
Ciloteh/ Oce
Ketika pertama kali memakai putih biru, aku merasa tingkat kegantenganku bertambah dua garis.
Jadi murid SMP kupikir semua teman-temanku - bahkan juga semua murid baru SMP di manapun - juga punya perasaan yang sama, menganggap diri bukan lagi bocah ingusan.
Padahal sebenarnya menghirup salemo masih seperti dulu, prosedurnya sama: salemo menghilir tanpa diketahui, lalu agak lama baru terasa dan nyadar. Bukannya dibuang tapi dengan sekali tarikan nafas disertai gerakan bahu, salemo ditarik masuk lagi. Otomatis.
Atau lari-larian sambil memegang celana yang nyaris turun, karena hak dan sletingnya copot. Itu berlangsung alamiah. Tanpa malu.
Barangkali perasaan sok udah dewasa yang menghinggapi anak-anak seusiaku muncul karena mendapati suasana baru-baru dengan teman-teman baru. Tapi bukan itu poinnya. Penyebabnya adalah, murid-murid baru terlihat keren. Yang perempuan cantik-cantik, imutnya sudah lesap. Anak laki-laki juga begitu. Anak-anak baru dari sekolah lain itu terlihat ganteng. Apalagi bagi yang sudah numbuh kumisnya dua tiga lembar atau tulang keringnya ditumbuhi bulu. Itu keren sekali.
Kenyataan itu membuat para alumnus SD tak mau terlihat culun di mata teman-teman barunya. Mereka jadi auto jaim. Apalagi yang sudah lulusan meja jagal mantri sunat, atau yang sudah mimpi basah, harus mulai mengatur-ngatur sikap. Mendewasa-dewasakan diri. Jangan sebut gue bocah. Mungkin begitu yang ada di pikiran kami yang "bocah bukan remaja pun belum" ini. Kendati begitu, pas kelakuan culun anak-anaknya tetap tak bisa disembunyikan. Pura-pura dewasa itu susah, tak bisa dibuat-buat.
Jangankan anak-anak, orang dewasa pun banyak juga yang mencoba berpura-pura dewasa, sok mendewasa-dewasakan diri, padahal aslinya kekanakan. Jadi dewasa itu memang tumbuh, bukan cangkokan. Sikap dewasa itu terbentuk dari tempaan hidup, bukan hasil framing.
Kelakuan kanak-kanak itu misalnya, kebiasaan kami menghitung kata-kata yang berulang-ulang diucapkan guru saat mengajar. Guru Tata Buku kami, adalah salah satu guru yang kebiasaannya uniknya kami jadikan becandaan. Kalau beliau masuk, kami yang duduk di belakang mulai menghitung kata "nah" yang keluar dari mulutnya selama beliau mengajar. Aku pernah menghitung Ibuk Tata Buku mengucapkan kata "nah" lebih dari 50 kali. Rata-rata selama diajar beliau, kata-kata itu muncul di kisaran 40-50 kali.
Contoh lain, dan mungkin sama di mana-mana, adalah tidak mennghormati guru saat mengajar. Guru serius dan sudah setengah mati menerangkan pelajaran, kami malah tak peduli dan asyik menggobrol, cekikikan, lempar-lemparan rensam kertas. Korbannya adalah guru bahasa Inggris. Beliau seorang guru yang kalem, sangat lembut, dan gak bisa marah secara ekspresif. Hampir setiap kali beliau mengajar, beliau gagal menguasai kelas. Kami yang sudah paham bahwa beliau tak bisa marah, makin menjadi-jadi. Kelas sudah macam pasar sayur di pagi hari. Berisik. Suara lembut Ibuk Bahasa Inggris tenggelam dalam lautan hiruk-pikuk.
Puncaknya, setelah berulang kali kejadian sepeerti itu, akhirnya Ibu Bahasa Inggris menyerah. Ia merajuk duduk di kursinya. Beliau terisak.
Kami, yang gak mengira beliau bakal menangis gara-gara kebejatan moral kami, akhirnya terdiam. Setelah beberapa detik kelas hening, Ibuk Bahasa Inggris bangkit, lalu berucap soal kekecewaannya pada kelakuan kami yang kepala batu. "Jadi beritahu saya, mengapa kalau dengan saya kalian selalu ribut?"
Mendapat pertanyaan itu, dari pojok belakang aku menjawab sekenanya, "Ibuk mengajarnya tidak berwibawa ...."
Sial. Kupikir jawabanku sudah benar dan jujur (sesuai analisaku). Tapi rupanya jawabanku itu membuat beliau tersinggung. Beliau merajuk keluar kelas. Meninggalkan kami. Rupanya kejujuran tidak selalu berefek baik. Atau mungkin aku yang terlalu lugas, tak pandai berbasa-basi. Tapi mana mungkin mengharapkan basa-basi dari bocah ingusan?
Ditinggal guru dengan isak, murid-murid badung itu bukannya insyaf, justru kelas kembali mendengung. Tertawa-tawa-lagi, ngobrol lagi. Sepertinya Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran, serta menutup penglihatan mereka.