SELAMA pembelajaran jarak jauh atau online berlangsung, aku melihat bahwa keberadaan WA grup yang menghubungkan murid atau orang tua murid dengan guru-guru itu memang sangat penting dan sangat bermanfaat.
karena belajar jarak jauh maka WA grup adalah lalu lintas informasi tentang segala hal yang berhubungan dengan pelajaran sekolah.
Tapi saat situasi sudah normal kembali dan pembelajaran sudah berlangsung tatap muka 100% aku merasa keberadaan WA grup ini hanya perlu untuk info-info keadaan darurat saja.
Terkadang, keberadaan WA grup membuat beberapa orang tua 'mengandalkan' segala informasi ada di grup.
Seperti :
"Mau tanya dong, hari ini ada PR?"
"Besok disuruh bawa kardus bekas ya? Itu buat apa ya? Apa lagi yang harus dibawa selain kedua bekas?"
"Setoran hafalan surat itu terjemahannya di hafal juga gak?"
"Besok anak-anak disuruh bawa baju Pramuka juga ya buat salin setelah selesai olahraga?"
Padahal kan yang sekolah anaknya, anak kan udah denger pengumuman di sekolah. Tapi semua masih ditanyakan ke grup.
Kadang wali kelas sampai komen :
"semua info sudah saya sampaikan jelas kepada anak-anak, silakan tanya pada anaknya, bahkan sudah saya suruh catat juga kalau takut lupa,"
Eh ada yang berani komen "yah maklum lah Bu guru, namanya juga anak-anak, mana semua bisa inget,"
Atau "aduh, anakku mah masih bocah banget, dia gak peduli dan gak perhatiin apa-apa yang disuruh bawa, malah nyuruh aku tanya ke Bu guru,"
Dan terkadang, adab pada guru menjadi kurang.
Guru yang harusnya adalah dihormati dan dimuliakan karena telah mentransfer ilmu dan pengetahuan, yang doa dan keberkahannya diharapkan, malah diperlakukan sebagai media buat minta tolong ini itu, disuruh buat ini itu.
"Bu guru, tadi pas salin ke baju olahraga, kayaknya ikat pinggang Pramuka anakku ketinggalan di kamar mandi, karena gak ada sampai di rumah, tolong simpankan dulu ya Bu guru,"
"Botol minum anakku ketinggalan, tolong simpankan dulu ya Bu guru,"
"Tolong bilangin anakku ya Bu guru, abiskan bekal makan minumnya, karena sekolahkan hari ini sampai sore,"
"Tolong bilangin anakku, jangan lari-larian, takut jatuh,"
"Bu guru, tolong pesenin ayam goreng di kantin buat anakku, tadi kesiangan gak bawa bekal, nanti abis makan lap pakai tisu basah, tisunya ada di saku tas kiri biar tangannya gak bau ayam,"
Dll-dll.
Padahal, itu harusnya antara anak dan orangtua saja.
Ajarkan anak bertanggungjawab dengan barang-barangnya, kalau ketinggalan karena keteledoran anak, maka anak yang harus bertanggung jawab misal besok pagi berangkat lebih awal untuk menemukan ikat pinggang atau botol minum yang ketinggalan.
Kalau ternyata udah nggak ada di tempatnya, anak yang harus minta tolong Bu guru saat di sekolah untuk membantu mengumumkan di depan kelas apakah ada yang menemukan barang tsb.
Kalau keteledoran seperti ini berulang kali, maka ajarkan anak akan konsekuensi, misal dia harus membeli dengan uang jajannya sendiri, atau ke sekolah tanpa atribut ikat pinggang dan harus siap dengan 'hukuman' aturan dari sekolah (misal jika atribut seragam gak lengkap anak kena sanksi memungut sampah, atau menyapu halaman sekolah,dll sesuai aturan sekolah).
Dengan demikian, anak belajar bertanggung jawab.
Soal bekal harus dihabiskan, gak boleh jajan es, gak boleh lari-larian, di mana harus menunggu jika sewaktu-waktu orangtua telat menjemput, itu harusnya sudah disampaikan kepada anak saat di rumah.
Jangan membebankan segalanya pada guru semua.
Dan ingat juga, guru punya batas jam kerja.
Jangan karena alasan kita bekerja kantoran, lalu jam 11 malam WA Bu guru nanyain apa tugas buat besok?
Guru juga punya anak dan punya keluarga. Juga harus istirahat.
Tugas sekolah anak, ya anak yang harus tau.
Kalau alasan anak masih kecil dibandingkan usia teman2nya, anak masih bocah banget, dulu kenapa ngotot maksain masuk sekolah di usia terlalu dini? Udah banyak himbauan agar sekolah itu sesuai dgn usia yang dipersyaratkan saja, kita tak sedang berlomba apa-apa, tapi tetap masukin anak di usia kecil, kemudian selalu menjadikan usia kecil sebagai alasan untuk bertanya urusan sekolah yang seharusnya itu adalah tanggung jawab anak
Yuk, ajarkan anak bertanggungjawab.
Jangan mengambil alih hal-hal yang harusnya tanggung jawab anak.
Kalau anak menyepelekan tugas sekolah, tak memperhatikan omongan guru, maka biarkan anak menerima konsekuensi atau hukumannya agar anak paham bahwa dia harus bertanggung jawab pada dirinya sendiri.
Kita takkan selamanya ada di samping anak.
Jika semua hal diurusin, hal-hal terkecil sekalipun dibantuin, kapan anak belajar tentang arti hidup yang sebenarnya?
Dunia tak bekerja semaunya kita.
Dunia punya cara.
Maka kalau tak ingin dilindas oleh dunia maka belajarlah tangguh dan bertanggungjawab.
Sedari dini, sedari kecil, anak harus diajarkan secara bertahap akan arti tanggungjawab.
Jika kita tak mendidik dan tak mengajari anak dengan baik arti sebuah tanggung jawab, maka bisa jadi dunia kelak akan mengajari mereka arti tanggungjawab dengan cara yang jahat.
Dan yang utama, jaga hati guru. Jangan sampai karena pertanyaan - pertanyaan tak penting kita di luar jam kerja yang menganggu istirahatnya, atau suruhan-suruhan kita soal simpankan botol minum atau apapun yang ketinggalan, menyebabkan guru tak ridho.
Jangan sampai karena perbuatan kita yang tak menghargai guru dari anak -anak kita, hilang keberkahan ilmu pada anak kita.
Hormati guru, agar berkah ilmu anakmu
Fitra Willis


0 Komentar